Senin, 07 November 2011

This Post is Dedicated for My Beloved Father


7 November 1994 pukul 09.45, sesosok raga tak bernyawa terbujur kaku di hadapanku. Tubuhnya ditutupi kain panjang dengan motif batik berwarna coklat dan bagian wajahnya ditutupi selendang berwarna putih. Semua orang yang hadir di ruangan itu tampak menangis terisak seolah mereka tak bisa membendung air mata. Aku tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Aku tak tahu kenapa orang-orang menangis. Dan kenapa banyak orang berdatangan kerumahku. Ya, wajar saja jika aku tak mengerti, karena ketika itu umurku baru 2 tahun.  
Aku baru menyadari bahwa papa ku sudah tiada beberapa tahun kemudian. Sebab, setiap aku menanyakan dimana keberadaan papa, mama selalu menjawab, “Papa lagi di sekolah, mungkin papa lagi banyak tugas, nanti malam papa pasti pulang!”.  Sebagai seorang anak yang masih berumur 6 tahun tentu aku percaya dengan apa yang dikatakan mama. Namun ketika aku mulai duduk dibangku sekolah dasar, aku mulai mengerti bahwa papa telah dipanggil yang mahakuasa.
Semenjak aku mulai menyadari bahwa aku telah menjadi seorang yatim justru disaat aku masih sangat butuh kasih sayang seorang ayah. Aku semakin rindu dengan sosok seorang ayah. Terkadang, aku berkhayal, “ Andai saja kalau aku masih punya papa!”. Ah, sudahlah. Tuhan pasti lebih sayang terhadap papa, dan sekarang papa pasti telah tenang di-Sana. Ya, aku memang tak dapat memungkiri bahwa aku memang ingin mendapat kasih sayang dari seorang ayah. Hampir seumur hidupku aku tak pernah merasakannya. Namun apa hendak dikata, Allah telah menakdirkan hal yang demikian untuk aku.
Kini 17 tahun telah berlalu. Dan hingga kini memang tidak ada sorangpun yang bisa menggantikan posisi pada dihati kami. Mama tetap memilih status sebagai single parent buat kami, dan aku pun tak pernah terfikir untuk memiliki seorang pengganti papa. Aku memang tak pernah bisa melupakan kepergian papa, namun aku telah mengikhlaskan kepergian beliau untuk selama-lamanya. Kini, hanya doa yang dapat aku persembahkan sebagai bukti aku sangat menyayanginya. Ya Allah, semoga saja nanti engkau menyatukan kami  kembali di syurga-Mu.

 

Sabtu, 05 November 2011

Telepon dari SMANSA

sebnarnya hari ini aku ada janji mau ke smansa dengan teman-teman. Tapi pagi ini rasanya terlalu malas untuk melangkahkan kaki keluar rumah. Semenjak shubuh, hujan dengan intensitas sedang mengguyur kota biru. Suhu udara yang menusuk tulang ikut memaksa aku menghentikan langkahku. Mungkin ini bukan saat yang tepat untuk mengunjungi almamaterku.
****
Tiba-tiba Hp-ku berdering. Sebuah panggilan dari nomor tak dikenal. "assalamualaikum!" ucapku.
"Waalaikumsalam, ini dengan Miche Leo Fullgita? Ini dari TU SMA N 1 Payakumbuh, kami mau melakukan pendataan siswa yang diterima di perguruan tinggi tahun ini, Miche kuliah dimana ya sekarang?" tanya seorang Ibu dari seberang sana.
" Maaf Bu, tapi tahun ini saya belum melanjutkan pendidikan, saya belum diterima di perguruan tinggi !" jawabku.
" Oh, tapi Ibu boleh minta data teman2mu? disini masih ada beberapa orang yang belum terdata!" tanya beliau sambil membacakan satu persatu nama teman-temanku.
****
Aku terdiam, bukan ini yang dulu aku impikan. Buka kegagalan ini yang aku inginkan. Dulu aku berharap, aku bisa menjawab pertanyaan ini dengan nama universitas idamanku. Tapi, kini kenyataan berkata lain. Aku harus menjawab semua pertanyaan itu dengan kalimat "aku belum lulus tahun ini"

kutemukan kembali "my mood booster"

Rasanya sudah terlalu lama aku kehilangan semangat hidup. Meskipun aku sempat bersemangat untuk menata kembali hidupku, namun semangat itu tak bertahan lama. Hanya berselang beberapa hari kemudian, semangat itu kembali pudar. Tapi kini, aku telah menemukan kembali semngat hidup yang sempat terkubur. Aku menemukannya kembali, dan aku akan jaga semangat itu agar selalu ada disini, disetiap detak jantungku. 
Ahh,, rasanya terlalu bodoh aku menyia-nyiakan hidupku selama lima bulan belakangan. Tidak ada kegiatan yang berarti yang dapat aku lakukan. Berpura-pura bersemangat, tapi sebenarnya aku telah membohongi diriku sendiri. Setiap hari, aku hanya duduk di depan televisi. Menonton acara yang dulu sangat ku benci. Ya, dulu aku sangat membenci sinetron-sinetron yang ditayangkan di layar kaca. Tapi kini, aku malah tak pernah ketinggalan satu episodepun. Aku mulai membenci tayangan favoritku, aku hampir melupakan TVone dan MetroTV. Aku heran, bahkan orang tuaku pun ikut heran. Perubahan yang amat sangat drastis dalam hidupku.
Dulu, hampir tak ada waktu untuk sinetron. Walaupun ada, itu hanya untuk menonton berita atau acara musik. Dulu, hampir tak ada waktu luang, sepulang dari sekolah sekitar pukul 16.05, aku menghabiskan waktu hingga pukul 9 pm di tempat bimbel. Rumah ibarat tempat penginapan saja bagiku. Tapi kini, hampir 24 jam aku habiskan di rumah dan tentu saja tanpa kegiatan yang bermanfaat. Aku bodoh, ya sangat bodoh. Aku membiarkan waktuku terbuang sia-sia.
tidaaaaakk, aku tak mau lagi begini. Ini bukan hidupku. Aku tak mau lagi kreatifitasku dibelenggu. Aku telah menemukan semangatku kembali. Terimakasih "my mood booster". Semangat ini tidak berasal dari perasaan yang lumrah dialami oleh hawa terhadap adam. My mood booster bukanlah seseorang yang bisa disebut sebagai "boyfriend" atau apapun sinonimnya. Dia adalah calon pemimpin negeri ini dimasa depan. Dia sangat menginspirasi, dan tulisannya mampu membangun mimpiku kembali. Rangkaian kata-katanya mempu menyadarkanku, memang sangat beresiko jika kita berani bermimpi. Kita beresiko bahagia jika mimpi itu dapat kita wujudkan, dan bahkan bisa beresiko kehilangan semua mimpi itu ketika gagal. Tapi, hidup ini terlalu indah untuk disia-siakan dengan menghapus mimpi yang sempat hadir. Bukankah tugas kita hanya berusaha dan berdoa? Lalu kenapa aku menyalahkan takdir ini tanpa menyadari hikmah dibalik semua ini? Maafkan aku, aku keliru,,,

Minggu, 16 Oktober 2011

Degradasi Nilai-nilai Kebudayaan di Minangkabau


Degradasi Nilai-nilai Kebudayaan di Minangkabau
Kita sering mendengar orang-orang mengatakan “apalah arti sebuah nama”. Mungkin bagi sebagian orang nama bukanlah sesuatu yang berarti. Namun, bagi masyarakat Minangkabau, nama itu adalah sesuatu yang sangat penting. Ketek banamo, gadang bagala. Katiko ketek basabuikan namo, katiko gadang baimbauan gala. Dengan mengungkapkan nama panggilan (gala) ini, setidaknya kita dapat mengenal panggilan yang pernah ada dalam kehidupan kita sebagai orang Minang. Selain itu, penggunaan nama panggilan ini juga dapat memperlancar hubungan kekeluargaan dalam sistim kekerabatan di Minangkabau.
Dulu bagi orang minangkabau, nama dan gala sangat diperhatikan. Pernah suatu ketika saya kedatangan tamu dari kampung. Saya mempersilakan tamu tersebut untuk masuk rumah, “Masuaklah dulu, Pak!” . Bapak tadi tertegun dan berkata, “ Ambo ko mamak kau mah, Kamanakan! Baa pulo dek kau imbau Apak?”. Saya kaget mendengar kata-kata beliau. Menurut saya panggilan bapak atau pun mamak itu sama saja, karena menurut saya panggilan itu cukup sopan. Namun, setelah saya bertanya kepada orang tua saya, mereka menjelaskan bahwa ternyata orang yang saya panggil bapak tadi berasal dari suku yang serumpun dengan ibu saya. Jadi saya harus memanggil beliau dengan sebutan mamak, bukan bapak. Saya pun sadar, wajar saja jika mamak saya marah ketika saya panggil bapak.
 Sebutan yang keliru ini biasanya dianggap sepele dan tak perlu dihiraukan oleh orang Minangkabau masa kini. Padahal, zaman dahulu kita bisa saja disebut orang yang tidak tahu adat karena tidak bisa membedakan siapa yang harus dipanggil mamak dan siapa yang dipanggil bapak. Jika salah memanggil, bisa-bisa ibu kita dianggap tidak bisa mengajari anak, sehingga anak tidak tahu adat.
Secara umum, mamak adalah saudara laki-laki ibu. Semua saudara laki-laki ibu baik adik maupun kakaknya disebut mamak. Tak hanya itu, saudara laki-laki ibu dalam suku yang serumpun juga disebut mamak.  Jika saudara laki-laki yang lebih tua dari ibu kita dipanggil “Mak Adang” atau Mamak nan Gadang, sedangkan yang lebih muda dipanggil “Mak Etek” atau Mamak nan Ketek. Kehadiran mamak di dalam keluarga Minangkabau sangat dibutuhkan. Mamak sebagai orang yang dituakan dan menjadi pemimpin bagi kemenakannya. Selain itu, mamak harus bisa mendidik kemenakannya.
Kedudukan kamanakan sangat penting bagi seorang mamak baik itu kamanakan perempuan ataupun laki-laki. Seorang kamanakan laki-laki kelak akan menggantikan kedudukannya sebagai mamak dalam suatu keluarga. Kamanakan laki-laki merupakan kader kepemimpinan (calon mamak) dalam keluarganya. Jika kamanakan laki-laki tidak ada, maka mamak akan merasa cemas karena kelak tidak ada pengganti dirinya. Hubungan mamak dan kamanakan tidak dapat dipisahkan. Hal ini sesuai dengan ungkapan adat “ kamanakan barajo ka mamak”. Artinya kemenakan menjadikan mamak sebagai rajanya. Ia harus tunduk dan patuh terhadap mamak sebagai pemimpinnya. Dengan hubungan keduanya, mamak dan kamanakan punya hak dan kewajiban masing-masing. Mamak sebagai orang yang dituakan dan menjadi pemimpin bagi kamanakannya tidak boleh berbuat sewenang-wenang. Mamak harus memiliki aturan sebagai pemimpin. Kamanakan juga harus memiliki tanggung jawab terhadap mamaknya. Ia harus tunduk dan patuh terhadap perintah mamaknya sehingga dengan saling memenuhi tanggung jawab, maka akan terpelihara hubungan yang harmonis antar mamak dan kamanakan.
Sekarang, semua itu dianggap sebagai sesuatu yang telah berlalu. Semua kebesaran dan kebanggan tersebut telah menjadi dongeng bagi masyarakat zaman sekarang, sebab generasi sekarang hanya menumpang pada kebesaran masyarakat masa lalu sehingga mereka sendiri tidak sadar bahwa mereka telah kehilangan kebesarannya. Masyarakat Minangkabau telah berubah secara total. Maka ketika orang berbicara tentang struktur sosial Minangkabau yang diulas hanyalah cerita lama yang dikutip dari tradisi-tradisi yang telah hampir dilupakan. Kini hubungan antara mamak dan kamanakan masih tetap bertahan, namun implementasinya dalam kehidupan sehari-hari lebih bersifat simbolik daripada fungsional.
Kedudukan seorang mamak kini hanyalah sebagai panggilan saja. Sedangkan perannya sebagai mamak tidak lagi terlihat dalam keluarganya. Kewajiban dan tanggung jawabnya tidak lagi ditunaikan sehingga hubungan antara mamak dan kamanakan tak harmonis lagi. Bahkan kamanakan tak mengenal lagi siapa mamaknya dan begitu juga sebaliknya. Mamak dan kamanakan sudah tak lagi saling mengenal. Ungkapan adat anak dipangku, kamanakan dibimbiang sudah tak dipakai lagi dalam kehidupan sehari-hari. Kamanakan telah kehilangan sosok mamak sebagai tempat bertanya, dan mamak kehilangan kamanakan yang kelak akan menggantikan posisinya sebagai mamak.
Masyarakat Minangkabau telah mengalamai kegoncangan budaya (cultural shock). Kegoncangan ini telah membawa masyarakatnya untuk mencari jati dirinya masing-masing. Kontrol sosial yang makin melemah terutama karena perangkat kelembagaan sosial tradisional sudah mulai pudar. Gemerlapnya kehidupan metropolitan telah menjadi kiblat bagi kegiatan politik, sosial, ekonomi dan menjadi acuan bagi kehidupan masa kini. Siswa diberbagai jenjang pendidikan akan lebih bangga menggunakan bahasa asing daripada menggunakan bahasa Minangkabau sehingga bahasa Minangkabau menjadi bahasa yang mulai ditinggalkan masyarakatnya. Begitupun dengan kata sapaan di Minangkabau. Kata “mamak” dan “etek” telah digantikan dengan kata “oom” dan “tante”. Adat Minangkabau yang basandikan syara’ dan kitabullah itu kini tinggal sebagai sebuat cerita indah yang disampaikan dalam pertemuan resmi. Adat itu nyaris tak digunakan lagi dalam kehidupan sehari-hari.
Jika saat ini saja peranan budaya Minangkabau telah berangsur-angsur dilupakan, lalu apa yang akan terjadi dengan budaya kita sepuluh tahun kedepan? Apakah masyarakat masih mengenal budaya warisan nenek moyang kita? Semua itu tergantung kepada kita yang hidup dizaman sekarang. Apakah kita rela satu persatu budaya kita mulai terlupakan? Tentu saja tidak. Untuk itu, kita harus menggalakkan kembali kebudayaan kita yang nyaris terlupakan dan terkubur seiring berjalannya waktu. Sebagai orang Minangkabau hendaknya kita bangga dengan budaya kita bukan budaya asing. Jika kita merasa bangga dengan adat dan budaya daerah kita, tentunya kita bisa mengembalikan kejayaan budaya masa lampau. Ibarat kata pepatah adat Minangkabau mambangkik batang tarandam .
Pelestarian suatu tatanan kehidupan sosial di Minangkabau sangat tergantung kepada bagaimana masyarakat itu meyakini bahwa nilai-nilai yang terdapat dalam kebudayaannya tersebut bermutu tinggi dan sulit dicari tandingannya pada masa kini dan masa yang akan datang. Kita lihat saja bagaimana aturan adat mengenai hubungan antara seseorang pribadi dengan keluarga dan masyarakat. Begitu pula dengan hubungan mamak dan kamanakan, hubungan minantu dan mintuo, serta hubungan anak pisang dengan bakonya. Falsafah adat yang mengajarkan kita untuk menjaga keharmonisan pergaulan dalam masyarakat baik yang tua terhadap yang muda, yang muda terhadap yang tua maupun sesama umur. Falsafah ini sangat relevan jika kita implementasikan dalam kehidupan di zaman modern tanpa membeda-bedakan suku bangsa. Hal ini tentunya akan membuat kita dapat diterima di lingkungan mana saja, sementara kita tidak akan kehilangan jati diri sebagai orang Minang.
Untuk dapat terus melestarikan budaya Minangkabau, kita harus memulainya dari sesuatu yang dianggap sepele seperti penggunaan panggilan dan membangun kembali hubungan antara mamak dan kamanakan, karena dengan hubungan ini terkandung suatu falsafah kehidupan yang bernilai tinggi dan juga bersendikan kepada syari’at islam yang menganjurkan kita untuk saling menjaga silaturrahim, maka ini menjadi hutang bagi kita untuk terus melestarikannya di dalam keluarga maupun di korong kampuang kita di Minangkabau.

Rabu, 28 September 2011

Indonesiaku Sayang, Indonesiaku yang Malang...


“Negara sumber polusi udara”. Mungkin itu julukan yang tepat untuk Indonesia saat ini. Betapa tidak, terbakarnya hutan di kawasan bukit barisan membuat hampir seluruh daerah di Pulau Sumatera terselimuti kabut asap. Seperti halnya yang terjadi di Pekan Baru, kabut asap kini mulai mengganggu jarak pandang di jalan raya. Bahkan, aktifitas di Bandara Sultan Syarif Kasim II juga sempat terganggu akibat tebalnya kabut asap, sehingga beberapa maskapai penerbangan terpaksa menunda jadwal keberangkatan selama beberapa jam.  Tidak hanya itu, bahkan kabut asap juga mulai menyelimuti Negeri Jiran dan Singapura. Negara tetangga mulai mengeluhkan ekspor asap polusi dari Indonesia yang mengganggu berbagai aktifitas di sana. Seperti halnya yang terjadi di Orchid Road, beberapa warga Singapura tampak mulai menggunakan masker agar tidak membahayakan sistim pernafasan.
Singapura dan Malaysia seolah hanya bisa komplain ketika mereka menerima kiriman asap dari Indonesia. Lalu bagaimanakah dengan sumbangan oksigen yang selama ini pernah disuplay Indonesia untuk dunia ??? Ya, tak bisa dipungkiri jika selama ini hutan Indonesia telah menyumbangkan oksigennya pada saat musim salju. Dunia Internasional seolah tidak peduli dengan sumbangan oksigen itu. Nmaun ketika kiriman asap Indonesia menggangu aktivitas meraka, banyak negara tetangga yang selama ini menikmati oksigen dari Indonesia menutup matanya dan menyalahkan Indonesia. Sungguh tidak adil.
Diduga, kebakaran hutan dipicu oleh musim kemarau yang melanda kawasan bukit barisan selama beberapa minggu belakangan sehingga membuat hutan di kawasan ini rentan terbakar. Tak hanya itu, pembukaan lahan baru dengan cara membakar lahan pun menjadi alternatif bagi petani. Mereka mengaku, membuka lahan dengan cara pembakaran lahan ini bertujuan untuk peremajaan tanaman. Mereka terpaksa melakukan pembakaran lahan karena cara ini dianggap dapat memudahkan para petani dalam menggarap lahan meskipun tingkat kesuburan tanah akan berkurang dengan cara pembakaran lahan.
Berbagai usaha telah dilakukan oleh pemerintah untuk mengurangi tingkat kepekatan kabut asap dengan mengerahkan tim pemadam kebakaran dibeberapa titik api (hotspot). Selain itu, pemerintah juga menerima tawaran dari berbagai negara tetangga untuk membantu pemadaman api. Namun hingga saat ini, belum terlihat perubahan yang cukup signifikan.
Pemerintah menuturkan, jika hujan turun di kawasan bukit barisan, titik api akan berkurang dan ketebalan asap juga akan berkurang. Namun hujan yang ditunggu-tunggu tak kunjung turun. Sehingga masyarakat tampaknya harus bersabar merasakan dampak dari tindakan yang tidak beratanggung jawab.(Miche,24102010)

cerita bersama HIjir dan Susan


Hari ini aku sedang tidak ada kegiatan apa-apa. Maklumlah, semenjak aku dinyatakan gagal dalam ujian masuk perguruan tinggi, tidak ada kegiatan yang dapat aku lakukan selain mengulang pelajaran untuk persiapan menempuh ujian SNMPTN tahun 2012. Kali ini aku iseng-iseng membongkar-bongkar tulisan yang pernah aku buat beberapa bulan yang lalu. Aku tertarik untuk membaca kembali tulisan tersebut. Mataku tertuju pada sebuah file yang berjudul “AMIIIIINNNN.docx”.  Aku penasaran dengan isi tulisannya. Segera ku buka file tersebut ternyata isinya kalimat berikut:
 AMIIIIINNNN,, :),,, TPI KYK'A KEREN GTU,, KMU IPDN MIKE,,, WKTU TU AQ CRITA2 MA IBUK AHDA,, DY KBYANG KMU NTU JD PMBICARA,,,, POLITISI GTU LHAA,, POKOK'A NANGKRING D TV,, JD AHLI SOSIAL GTUU LHAA,,, WHAA MUDAH2N YHHH,, FISIK OK,, PMIKIRAN JG OK,, AMIIIIINN DH POKOK'A,,, MUDAH2N JD ORG BESARR,,,
Ini cuplikan teks chatting aku dengan teman sebangku ku diwaktu SMA. Namanya Hijir Della Wirasti dan aku biasa memanggilnya dengan sebutan Hijir. Saat ini, Hijir telah menjadi mahasiswi disalah satu perguruan tinggi favorit di Indonesia. Dia diterima dijurusan Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung melalui jalur SNMPTN undangan. Aku nggak heran kalau Hijir bisa ketrima di ITB, PTN idamannya. Hijir memang orang yang sangat rajin dan punya semangat juang yang tinggi. Ya, semoga saja  setelah dia diterima sebagai mahasiswi ITB Allah memberikan kemudahan baginya untuk meraih cita-citanya.
****
            Aku tertegun. Nasibku kini berbeda jauh dengan teman sebangku-ku. Hijir telah meraih mimpinya menjadi mahaswi, namun aku mimpiku masih sebatas impian belaka. Aku kembali teringat masa-masa SMA ku. Aku teringat betapa besarnya harapan salah seorang guruku untuk dapat melihat aku sebagai orang yang sukses. Ibu Ahdahayati, beliau memang guru terbaik yang pernah aku temui. Senyum ramah selalu merekah dibibirnya ketika beliau bertemu dengan murid-muridnya. Aku memang sangat dekat dengan beliau sehingga aku sering bercerita tentang cita-citaku. Beliau sempat membuat aku terharu ketika ia berkata “ Miche ini ketua OSIS idola ibu, dan ibu doakan Miche bisa sukses nanti!”. Tak hanya itu, ketika aku bercerita bahwa aku sedang menjalani tes seleksi calon praja IPDN, beliau sangat antusias mendengarnya. Tak tanggung-tanggung, beliau menawarkan aku beberapa contoh soal akademik-salah satu test IPDN- untuk dapat aku pelajari. Bahkan beliau sengaja shalat hajat dan berdoa agar aku diberi kemudahan pada saat menjalani tes. Tapi kini aku belum berhasil mewujudkan impian beliau. Ketika aku menelepon beliau untuk mengabarkan bahwa aku gagal pada tes akademik, beliau kelihatan kecewa. Namun, beliau tetap memberikan semangat kepadaku.”nggak apa-apa Miche, gagal itu biasa. Yang penting kita udah berusaha. Miche jangan patah semangat ya, tahun depan dicoba lagi ya, sayang!” Ketika mendengar kata-kata Ibu Ahda, hatiku tenang. Meskipun aku telah mengecewakan beliau, namu Ibu Ahda tetap memberikan support-nya buat aku
            Ibu Ahda memang sempat bercerita kepada Hijir dan Susan mengenai harapannya kepadaku. Ketika aku menghadiri acara buka bersama alumni di aula SMAN 1 Payakumbuh, Susan sempat menceritakan bahwa Ibu Ahda benar-benar berharap aku menjadi orang sukses.”padahal kami alah nio pulang tu, tapi Bu Ahda alun juo salasai-salasai bacarito tentang miche lai!” begitu kata Susan kepadaku. Selain itu, Susan juga menyemangatiku agar aku tidak patah semangat.berbekal semangat dan harapan dari orang-orang yang aku sayangi, aku semakin bersemagat untuk menatap masa depanku. Terimakasih Ibu Ahda guruku tercinta, terimakasih Hijir dan Susan. Kalian sangat berarti bagiku. Semoga doa dan harapan kalian bisa menjadi kenyataan ditahun 2012. Ya, semoga saja Ya Allah,,, 
JUST FOR MY BELOVED TEACHER
Selasa, 28 September  2010 telah berlalu,  kini genap setahun sudah setahun  peristiwa itu terjadi.  Setahun sudah beliau terlelap dalam tidurnya yang panjang. Kami kehilangan sesosok guru yang begitu dekat dengan siswanya. Sosok guru yang perhatian, gurauannya yang begitu khas terhadap murid-muridnya begitu sulit dilupakan begitu saja.  Kami tak pernah menyesali kepergian beliau. Kami begitu ikhlas melepas kepulangan beliau kepada sang pencipta.
Pagi itu,aku baru bangun tidur. Dengan mata yang masih mengantuk, aku mengambil HP dan melihat ada sebuah SMS. Ternyata itu SMS dari Pak Sukardi.
“Ke, Innalillahiwainnailaihi rojiun, Pak Yu maningga tadi malam. Tolong agiah tau kawan2 yoo.”
Begitulah kira-kira bunyi pesan singkat yang aku terima. Aku kaget dan tidak percaya dengan SMS ini. Tapi pengirimnya Pak Sukardi, sangat tidak mungkin sekali beliau akan salah mengirimkan SMS jika ini hanya fiktif.
Tiba-tiba, HP ku kembali berdering. Ternyata SMS dari bapak kepala sekolah. Bunyi sms beliau hampir sama dengan yang dikirimkan Bapak Sukardi. Dadaku sesak, aku tidak percaya. Ini pasti mimpi, ya aku sedang bermimpi. Tapi ini kenyataan. Aku tidak bermimpi. Ini kenyataan. Satu persatu air mataku menetes. Begitu sulit dipercaya, guru yang paling aku sayangi telah pergi, dan aku sama sekali tidak menyangka beliau akan pergi secara mendadak. Sehari sebelumnya, beliau masih dalam keadaan sehat wal afiat. Bahkan beliau masih sempat bergurau dengan kami sebelum upacara bendera dimulai.
HP ku kembali berdering, kali ini ada yang meneleponku.
“Maeq, iyo maningga Pak Yu?” tanya seseorang diseberang sana.
“iyo bg, ko Mike baru dapek sms dari Pak Res jo Pak Sukardi , keceknyo iyo bg!”aku terisak
“ndeehh,,”suaranya diseberang sana  terdengar begitu lemas. “iyolah Maeq, bg pulang kini nyo, ndak picayo bg Pak Yu maningga do, kawan2 bg ngecek gitu, tapi bg ndak picayo do. Makasih yo infonyo” teleponpun berakhir.
Aku bergegas bangun dari tempat tidur dan segera berkemas. Aku tak sabar ingin segera tiba di sekolah. Begitu sampai di gerbang sekolah, aku melihat hampir semua murid menangis. Begitupun dengan guru-guru. Ini artinya aku memang tidak sedang bermimpi. Pak Yu benar-benar telah tiada, dan beliau telah pergi tanpa memberi isyarat terlebih dahulu kepada kami.
Kami berkumpul di lapangan upacara dan berdoa bersama bagi almarhum. Isak tangis pun pecah, kami larut dalam kesedihan. Pagi itu kami benar-benar berduka. Kami telah kehilangan sesosok guru yang sangat kami cintai. Selepas berdoa bersama, kamipun berangkat menuju rumah duka di Lubuak Batingkok. Sekitar hampir seribu siswa dan siswi SMA N 1 Payakumbuh dengan mengendarai sepeda motor berjalan beriringan ke rumah duka untuk melepas kepergian guru tercinta menuju peristirahatan terakhir beliau.
Sesampai di rumah duka, tampak beberapa karangan bunga tanda turut berduka cita. Aku masih belum percaya ketika melihat sesosok tubuh terbujur kaku tak bernyawa, beliau adalah guru yang sangat ku sayangi. Aku tak dapat membendung air mata, dadaku terasa begitu sesak. Terlintas dibenakku kenangan bersama beliau.
Kini setahun telah berlalu,Pak, rasanya begitu sulit dipercaya bapak telah pergi. Kami sangat kehilangan bapak, kami sayang bapak. Tapi kami percaya Allah lebih sayang kepada bapak. Kini, aku hanya bisa berdoa untukmu. Hanya serangkai doa yang dapat kami persembahkan buat bapak sebagai tanda bahwa bapak akan selalu kami kenang meski kini kita telah berbeda tempat. REST  IN PEACE MY BELOVED TEACHER, YOU ALWAYS IN MY HEART..WE LOVE YOU
BAPAK (alm) FAIRUSDI,S.Pd IN MEMORIAM