Minggu, 16 Oktober 2011

Degradasi Nilai-nilai Kebudayaan di Minangkabau


Degradasi Nilai-nilai Kebudayaan di Minangkabau
Kita sering mendengar orang-orang mengatakan “apalah arti sebuah nama”. Mungkin bagi sebagian orang nama bukanlah sesuatu yang berarti. Namun, bagi masyarakat Minangkabau, nama itu adalah sesuatu yang sangat penting. Ketek banamo, gadang bagala. Katiko ketek basabuikan namo, katiko gadang baimbauan gala. Dengan mengungkapkan nama panggilan (gala) ini, setidaknya kita dapat mengenal panggilan yang pernah ada dalam kehidupan kita sebagai orang Minang. Selain itu, penggunaan nama panggilan ini juga dapat memperlancar hubungan kekeluargaan dalam sistim kekerabatan di Minangkabau.
Dulu bagi orang minangkabau, nama dan gala sangat diperhatikan. Pernah suatu ketika saya kedatangan tamu dari kampung. Saya mempersilakan tamu tersebut untuk masuk rumah, “Masuaklah dulu, Pak!” . Bapak tadi tertegun dan berkata, “ Ambo ko mamak kau mah, Kamanakan! Baa pulo dek kau imbau Apak?”. Saya kaget mendengar kata-kata beliau. Menurut saya panggilan bapak atau pun mamak itu sama saja, karena menurut saya panggilan itu cukup sopan. Namun, setelah saya bertanya kepada orang tua saya, mereka menjelaskan bahwa ternyata orang yang saya panggil bapak tadi berasal dari suku yang serumpun dengan ibu saya. Jadi saya harus memanggil beliau dengan sebutan mamak, bukan bapak. Saya pun sadar, wajar saja jika mamak saya marah ketika saya panggil bapak.
 Sebutan yang keliru ini biasanya dianggap sepele dan tak perlu dihiraukan oleh orang Minangkabau masa kini. Padahal, zaman dahulu kita bisa saja disebut orang yang tidak tahu adat karena tidak bisa membedakan siapa yang harus dipanggil mamak dan siapa yang dipanggil bapak. Jika salah memanggil, bisa-bisa ibu kita dianggap tidak bisa mengajari anak, sehingga anak tidak tahu adat.
Secara umum, mamak adalah saudara laki-laki ibu. Semua saudara laki-laki ibu baik adik maupun kakaknya disebut mamak. Tak hanya itu, saudara laki-laki ibu dalam suku yang serumpun juga disebut mamak.  Jika saudara laki-laki yang lebih tua dari ibu kita dipanggil “Mak Adang” atau Mamak nan Gadang, sedangkan yang lebih muda dipanggil “Mak Etek” atau Mamak nan Ketek. Kehadiran mamak di dalam keluarga Minangkabau sangat dibutuhkan. Mamak sebagai orang yang dituakan dan menjadi pemimpin bagi kemenakannya. Selain itu, mamak harus bisa mendidik kemenakannya.
Kedudukan kamanakan sangat penting bagi seorang mamak baik itu kamanakan perempuan ataupun laki-laki. Seorang kamanakan laki-laki kelak akan menggantikan kedudukannya sebagai mamak dalam suatu keluarga. Kamanakan laki-laki merupakan kader kepemimpinan (calon mamak) dalam keluarganya. Jika kamanakan laki-laki tidak ada, maka mamak akan merasa cemas karena kelak tidak ada pengganti dirinya. Hubungan mamak dan kamanakan tidak dapat dipisahkan. Hal ini sesuai dengan ungkapan adat “ kamanakan barajo ka mamak”. Artinya kemenakan menjadikan mamak sebagai rajanya. Ia harus tunduk dan patuh terhadap mamak sebagai pemimpinnya. Dengan hubungan keduanya, mamak dan kamanakan punya hak dan kewajiban masing-masing. Mamak sebagai orang yang dituakan dan menjadi pemimpin bagi kamanakannya tidak boleh berbuat sewenang-wenang. Mamak harus memiliki aturan sebagai pemimpin. Kamanakan juga harus memiliki tanggung jawab terhadap mamaknya. Ia harus tunduk dan patuh terhadap perintah mamaknya sehingga dengan saling memenuhi tanggung jawab, maka akan terpelihara hubungan yang harmonis antar mamak dan kamanakan.
Sekarang, semua itu dianggap sebagai sesuatu yang telah berlalu. Semua kebesaran dan kebanggan tersebut telah menjadi dongeng bagi masyarakat zaman sekarang, sebab generasi sekarang hanya menumpang pada kebesaran masyarakat masa lalu sehingga mereka sendiri tidak sadar bahwa mereka telah kehilangan kebesarannya. Masyarakat Minangkabau telah berubah secara total. Maka ketika orang berbicara tentang struktur sosial Minangkabau yang diulas hanyalah cerita lama yang dikutip dari tradisi-tradisi yang telah hampir dilupakan. Kini hubungan antara mamak dan kamanakan masih tetap bertahan, namun implementasinya dalam kehidupan sehari-hari lebih bersifat simbolik daripada fungsional.
Kedudukan seorang mamak kini hanyalah sebagai panggilan saja. Sedangkan perannya sebagai mamak tidak lagi terlihat dalam keluarganya. Kewajiban dan tanggung jawabnya tidak lagi ditunaikan sehingga hubungan antara mamak dan kamanakan tak harmonis lagi. Bahkan kamanakan tak mengenal lagi siapa mamaknya dan begitu juga sebaliknya. Mamak dan kamanakan sudah tak lagi saling mengenal. Ungkapan adat anak dipangku, kamanakan dibimbiang sudah tak dipakai lagi dalam kehidupan sehari-hari. Kamanakan telah kehilangan sosok mamak sebagai tempat bertanya, dan mamak kehilangan kamanakan yang kelak akan menggantikan posisinya sebagai mamak.
Masyarakat Minangkabau telah mengalamai kegoncangan budaya (cultural shock). Kegoncangan ini telah membawa masyarakatnya untuk mencari jati dirinya masing-masing. Kontrol sosial yang makin melemah terutama karena perangkat kelembagaan sosial tradisional sudah mulai pudar. Gemerlapnya kehidupan metropolitan telah menjadi kiblat bagi kegiatan politik, sosial, ekonomi dan menjadi acuan bagi kehidupan masa kini. Siswa diberbagai jenjang pendidikan akan lebih bangga menggunakan bahasa asing daripada menggunakan bahasa Minangkabau sehingga bahasa Minangkabau menjadi bahasa yang mulai ditinggalkan masyarakatnya. Begitupun dengan kata sapaan di Minangkabau. Kata “mamak” dan “etek” telah digantikan dengan kata “oom” dan “tante”. Adat Minangkabau yang basandikan syara’ dan kitabullah itu kini tinggal sebagai sebuat cerita indah yang disampaikan dalam pertemuan resmi. Adat itu nyaris tak digunakan lagi dalam kehidupan sehari-hari.
Jika saat ini saja peranan budaya Minangkabau telah berangsur-angsur dilupakan, lalu apa yang akan terjadi dengan budaya kita sepuluh tahun kedepan? Apakah masyarakat masih mengenal budaya warisan nenek moyang kita? Semua itu tergantung kepada kita yang hidup dizaman sekarang. Apakah kita rela satu persatu budaya kita mulai terlupakan? Tentu saja tidak. Untuk itu, kita harus menggalakkan kembali kebudayaan kita yang nyaris terlupakan dan terkubur seiring berjalannya waktu. Sebagai orang Minangkabau hendaknya kita bangga dengan budaya kita bukan budaya asing. Jika kita merasa bangga dengan adat dan budaya daerah kita, tentunya kita bisa mengembalikan kejayaan budaya masa lampau. Ibarat kata pepatah adat Minangkabau mambangkik batang tarandam .
Pelestarian suatu tatanan kehidupan sosial di Minangkabau sangat tergantung kepada bagaimana masyarakat itu meyakini bahwa nilai-nilai yang terdapat dalam kebudayaannya tersebut bermutu tinggi dan sulit dicari tandingannya pada masa kini dan masa yang akan datang. Kita lihat saja bagaimana aturan adat mengenai hubungan antara seseorang pribadi dengan keluarga dan masyarakat. Begitu pula dengan hubungan mamak dan kamanakan, hubungan minantu dan mintuo, serta hubungan anak pisang dengan bakonya. Falsafah adat yang mengajarkan kita untuk menjaga keharmonisan pergaulan dalam masyarakat baik yang tua terhadap yang muda, yang muda terhadap yang tua maupun sesama umur. Falsafah ini sangat relevan jika kita implementasikan dalam kehidupan di zaman modern tanpa membeda-bedakan suku bangsa. Hal ini tentunya akan membuat kita dapat diterima di lingkungan mana saja, sementara kita tidak akan kehilangan jati diri sebagai orang Minang.
Untuk dapat terus melestarikan budaya Minangkabau, kita harus memulainya dari sesuatu yang dianggap sepele seperti penggunaan panggilan dan membangun kembali hubungan antara mamak dan kamanakan, karena dengan hubungan ini terkandung suatu falsafah kehidupan yang bernilai tinggi dan juga bersendikan kepada syari’at islam yang menganjurkan kita untuk saling menjaga silaturrahim, maka ini menjadi hutang bagi kita untuk terus melestarikannya di dalam keluarga maupun di korong kampuang kita di Minangkabau.

Rabu, 28 September 2011

Indonesiaku Sayang, Indonesiaku yang Malang...


“Negara sumber polusi udara”. Mungkin itu julukan yang tepat untuk Indonesia saat ini. Betapa tidak, terbakarnya hutan di kawasan bukit barisan membuat hampir seluruh daerah di Pulau Sumatera terselimuti kabut asap. Seperti halnya yang terjadi di Pekan Baru, kabut asap kini mulai mengganggu jarak pandang di jalan raya. Bahkan, aktifitas di Bandara Sultan Syarif Kasim II juga sempat terganggu akibat tebalnya kabut asap, sehingga beberapa maskapai penerbangan terpaksa menunda jadwal keberangkatan selama beberapa jam.  Tidak hanya itu, bahkan kabut asap juga mulai menyelimuti Negeri Jiran dan Singapura. Negara tetangga mulai mengeluhkan ekspor asap polusi dari Indonesia yang mengganggu berbagai aktifitas di sana. Seperti halnya yang terjadi di Orchid Road, beberapa warga Singapura tampak mulai menggunakan masker agar tidak membahayakan sistim pernafasan.
Singapura dan Malaysia seolah hanya bisa komplain ketika mereka menerima kiriman asap dari Indonesia. Lalu bagaimanakah dengan sumbangan oksigen yang selama ini pernah disuplay Indonesia untuk dunia ??? Ya, tak bisa dipungkiri jika selama ini hutan Indonesia telah menyumbangkan oksigennya pada saat musim salju. Dunia Internasional seolah tidak peduli dengan sumbangan oksigen itu. Nmaun ketika kiriman asap Indonesia menggangu aktivitas meraka, banyak negara tetangga yang selama ini menikmati oksigen dari Indonesia menutup matanya dan menyalahkan Indonesia. Sungguh tidak adil.
Diduga, kebakaran hutan dipicu oleh musim kemarau yang melanda kawasan bukit barisan selama beberapa minggu belakangan sehingga membuat hutan di kawasan ini rentan terbakar. Tak hanya itu, pembukaan lahan baru dengan cara membakar lahan pun menjadi alternatif bagi petani. Mereka mengaku, membuka lahan dengan cara pembakaran lahan ini bertujuan untuk peremajaan tanaman. Mereka terpaksa melakukan pembakaran lahan karena cara ini dianggap dapat memudahkan para petani dalam menggarap lahan meskipun tingkat kesuburan tanah akan berkurang dengan cara pembakaran lahan.
Berbagai usaha telah dilakukan oleh pemerintah untuk mengurangi tingkat kepekatan kabut asap dengan mengerahkan tim pemadam kebakaran dibeberapa titik api (hotspot). Selain itu, pemerintah juga menerima tawaran dari berbagai negara tetangga untuk membantu pemadaman api. Namun hingga saat ini, belum terlihat perubahan yang cukup signifikan.
Pemerintah menuturkan, jika hujan turun di kawasan bukit barisan, titik api akan berkurang dan ketebalan asap juga akan berkurang. Namun hujan yang ditunggu-tunggu tak kunjung turun. Sehingga masyarakat tampaknya harus bersabar merasakan dampak dari tindakan yang tidak beratanggung jawab.(Miche,24102010)

cerita bersama HIjir dan Susan


Hari ini aku sedang tidak ada kegiatan apa-apa. Maklumlah, semenjak aku dinyatakan gagal dalam ujian masuk perguruan tinggi, tidak ada kegiatan yang dapat aku lakukan selain mengulang pelajaran untuk persiapan menempuh ujian SNMPTN tahun 2012. Kali ini aku iseng-iseng membongkar-bongkar tulisan yang pernah aku buat beberapa bulan yang lalu. Aku tertarik untuk membaca kembali tulisan tersebut. Mataku tertuju pada sebuah file yang berjudul “AMIIIIINNNN.docx”.  Aku penasaran dengan isi tulisannya. Segera ku buka file tersebut ternyata isinya kalimat berikut:
 AMIIIIINNNN,, :),,, TPI KYK'A KEREN GTU,, KMU IPDN MIKE,,, WKTU TU AQ CRITA2 MA IBUK AHDA,, DY KBYANG KMU NTU JD PMBICARA,,,, POLITISI GTU LHAA,, POKOK'A NANGKRING D TV,, JD AHLI SOSIAL GTUU LHAA,,, WHAA MUDAH2N YHHH,, FISIK OK,, PMIKIRAN JG OK,, AMIIIIINN DH POKOK'A,,, MUDAH2N JD ORG BESARR,,,
Ini cuplikan teks chatting aku dengan teman sebangku ku diwaktu SMA. Namanya Hijir Della Wirasti dan aku biasa memanggilnya dengan sebutan Hijir. Saat ini, Hijir telah menjadi mahasiswi disalah satu perguruan tinggi favorit di Indonesia. Dia diterima dijurusan Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung melalui jalur SNMPTN undangan. Aku nggak heran kalau Hijir bisa ketrima di ITB, PTN idamannya. Hijir memang orang yang sangat rajin dan punya semangat juang yang tinggi. Ya, semoga saja  setelah dia diterima sebagai mahasiswi ITB Allah memberikan kemudahan baginya untuk meraih cita-citanya.
****
            Aku tertegun. Nasibku kini berbeda jauh dengan teman sebangku-ku. Hijir telah meraih mimpinya menjadi mahaswi, namun aku mimpiku masih sebatas impian belaka. Aku kembali teringat masa-masa SMA ku. Aku teringat betapa besarnya harapan salah seorang guruku untuk dapat melihat aku sebagai orang yang sukses. Ibu Ahdahayati, beliau memang guru terbaik yang pernah aku temui. Senyum ramah selalu merekah dibibirnya ketika beliau bertemu dengan murid-muridnya. Aku memang sangat dekat dengan beliau sehingga aku sering bercerita tentang cita-citaku. Beliau sempat membuat aku terharu ketika ia berkata “ Miche ini ketua OSIS idola ibu, dan ibu doakan Miche bisa sukses nanti!”. Tak hanya itu, ketika aku bercerita bahwa aku sedang menjalani tes seleksi calon praja IPDN, beliau sangat antusias mendengarnya. Tak tanggung-tanggung, beliau menawarkan aku beberapa contoh soal akademik-salah satu test IPDN- untuk dapat aku pelajari. Bahkan beliau sengaja shalat hajat dan berdoa agar aku diberi kemudahan pada saat menjalani tes. Tapi kini aku belum berhasil mewujudkan impian beliau. Ketika aku menelepon beliau untuk mengabarkan bahwa aku gagal pada tes akademik, beliau kelihatan kecewa. Namun, beliau tetap memberikan semangat kepadaku.”nggak apa-apa Miche, gagal itu biasa. Yang penting kita udah berusaha. Miche jangan patah semangat ya, tahun depan dicoba lagi ya, sayang!” Ketika mendengar kata-kata Ibu Ahda, hatiku tenang. Meskipun aku telah mengecewakan beliau, namu Ibu Ahda tetap memberikan support-nya buat aku
            Ibu Ahda memang sempat bercerita kepada Hijir dan Susan mengenai harapannya kepadaku. Ketika aku menghadiri acara buka bersama alumni di aula SMAN 1 Payakumbuh, Susan sempat menceritakan bahwa Ibu Ahda benar-benar berharap aku menjadi orang sukses.”padahal kami alah nio pulang tu, tapi Bu Ahda alun juo salasai-salasai bacarito tentang miche lai!” begitu kata Susan kepadaku. Selain itu, Susan juga menyemangatiku agar aku tidak patah semangat.berbekal semangat dan harapan dari orang-orang yang aku sayangi, aku semakin bersemagat untuk menatap masa depanku. Terimakasih Ibu Ahda guruku tercinta, terimakasih Hijir dan Susan. Kalian sangat berarti bagiku. Semoga doa dan harapan kalian bisa menjadi kenyataan ditahun 2012. Ya, semoga saja Ya Allah,,, 
JUST FOR MY BELOVED TEACHER
Selasa, 28 September  2010 telah berlalu,  kini genap setahun sudah setahun  peristiwa itu terjadi.  Setahun sudah beliau terlelap dalam tidurnya yang panjang. Kami kehilangan sesosok guru yang begitu dekat dengan siswanya. Sosok guru yang perhatian, gurauannya yang begitu khas terhadap murid-muridnya begitu sulit dilupakan begitu saja.  Kami tak pernah menyesali kepergian beliau. Kami begitu ikhlas melepas kepulangan beliau kepada sang pencipta.
Pagi itu,aku baru bangun tidur. Dengan mata yang masih mengantuk, aku mengambil HP dan melihat ada sebuah SMS. Ternyata itu SMS dari Pak Sukardi.
“Ke, Innalillahiwainnailaihi rojiun, Pak Yu maningga tadi malam. Tolong agiah tau kawan2 yoo.”
Begitulah kira-kira bunyi pesan singkat yang aku terima. Aku kaget dan tidak percaya dengan SMS ini. Tapi pengirimnya Pak Sukardi, sangat tidak mungkin sekali beliau akan salah mengirimkan SMS jika ini hanya fiktif.
Tiba-tiba, HP ku kembali berdering. Ternyata SMS dari bapak kepala sekolah. Bunyi sms beliau hampir sama dengan yang dikirimkan Bapak Sukardi. Dadaku sesak, aku tidak percaya. Ini pasti mimpi, ya aku sedang bermimpi. Tapi ini kenyataan. Aku tidak bermimpi. Ini kenyataan. Satu persatu air mataku menetes. Begitu sulit dipercaya, guru yang paling aku sayangi telah pergi, dan aku sama sekali tidak menyangka beliau akan pergi secara mendadak. Sehari sebelumnya, beliau masih dalam keadaan sehat wal afiat. Bahkan beliau masih sempat bergurau dengan kami sebelum upacara bendera dimulai.
HP ku kembali berdering, kali ini ada yang meneleponku.
“Maeq, iyo maningga Pak Yu?” tanya seseorang diseberang sana.
“iyo bg, ko Mike baru dapek sms dari Pak Res jo Pak Sukardi , keceknyo iyo bg!”aku terisak
“ndeehh,,”suaranya diseberang sana  terdengar begitu lemas. “iyolah Maeq, bg pulang kini nyo, ndak picayo bg Pak Yu maningga do, kawan2 bg ngecek gitu, tapi bg ndak picayo do. Makasih yo infonyo” teleponpun berakhir.
Aku bergegas bangun dari tempat tidur dan segera berkemas. Aku tak sabar ingin segera tiba di sekolah. Begitu sampai di gerbang sekolah, aku melihat hampir semua murid menangis. Begitupun dengan guru-guru. Ini artinya aku memang tidak sedang bermimpi. Pak Yu benar-benar telah tiada, dan beliau telah pergi tanpa memberi isyarat terlebih dahulu kepada kami.
Kami berkumpul di lapangan upacara dan berdoa bersama bagi almarhum. Isak tangis pun pecah, kami larut dalam kesedihan. Pagi itu kami benar-benar berduka. Kami telah kehilangan sesosok guru yang sangat kami cintai. Selepas berdoa bersama, kamipun berangkat menuju rumah duka di Lubuak Batingkok. Sekitar hampir seribu siswa dan siswi SMA N 1 Payakumbuh dengan mengendarai sepeda motor berjalan beriringan ke rumah duka untuk melepas kepergian guru tercinta menuju peristirahatan terakhir beliau.
Sesampai di rumah duka, tampak beberapa karangan bunga tanda turut berduka cita. Aku masih belum percaya ketika melihat sesosok tubuh terbujur kaku tak bernyawa, beliau adalah guru yang sangat ku sayangi. Aku tak dapat membendung air mata, dadaku terasa begitu sesak. Terlintas dibenakku kenangan bersama beliau.
Kini setahun telah berlalu,Pak, rasanya begitu sulit dipercaya bapak telah pergi. Kami sangat kehilangan bapak, kami sayang bapak. Tapi kami percaya Allah lebih sayang kepada bapak. Kini, aku hanya bisa berdoa untukmu. Hanya serangkai doa yang dapat kami persembahkan buat bapak sebagai tanda bahwa bapak akan selalu kami kenang meski kini kita telah berbeda tempat. REST  IN PEACE MY BELOVED TEACHER, YOU ALWAYS IN MY HEART..WE LOVE YOU
BAPAK (alm) FAIRUSDI,S.Pd IN MEMORIAM

Rabu, 21 September 2011

Malam semakin larut. Namun mataku masih belum dapat kupicingkan. Suara rintik-rintik hujan yang semakin deras semakin membuatku resah. Aku tak tau apa yang sedang berkecamuk diotakku. Perasaanku tak tenang. Selintas bayangan tentang cita-citaku dimasa depan kembali mencuat dibenakku. Aku ingin sukses, aku ingin membuat orang tuaku bangga. Tapi apa yang bisa aku berikan kepada orang tuaku sekarang? Semua cita-citaku kini masih sebatas cerita. Aku sama sekali belum bisa mewujudkannya menjadi sebuah kenyataan. Aku telah mengecewakan orang tua ku. Aku telah menghancurkan semua angan-angan keluargaku untuk dapat mengantar aku melanjutkan pendidikan dibangku kuliah. Aku memang tidak ingin gagal, dan semua orang pasti tidak ingin mengalaminya. Tapi, apa hendak dikata. Manusia hanya dapat berencana, keputusannya tetap ditangan Allah.
"ah, mungkin Allah belum menakdirkan aku untuk melanjutkan pendidikan ditahun ini, aku yakin Allah telah menyiapkan yang terbaik buat aku!"itulah kata-kata andalanku ketika aku mulai putus asa. Kulihat satu persatu buku-buku yang tertata rapi di lemari. Sudah begitu lama rasanya aku tak menyentuhnya. Pandanganku tiba-tiba tertuju pada sebuah majalah. Bisa dikatakan majalah itu benda kesayanganku. Terkadang, jika aku kehilangan semangat, majalah ini mampu membangkitkan semangatku kembali. Majalah ini berisi profil orang-orang yang memiliki prestasi luar biasa. Mereka telah mengharumkan nama Indonesia dikancah Internasional. "Andai aku seperti mereka!" aku kembali menghayal. "Ya Allah, akankah aku bisa merasakan seperti mereka? membawa nama bangsa di dunia internasional, dan membahagiakan hati orang tuaku?" Entahlah, hanya engkau yang tau, dan hanya engkau yang bisa menjawab semua doaku.
Aku tak pernah berhenti berharap. Allah pasti akan membukakan jalan bagi hambanya yang mau berusaha. Sepenggal cerita sukses yang tertulis dimajalah tersebut pasti telah diiringi air mata kekecewaan sebelumnya. "tak ada alasan bagiku untuk berputus asa, aku belum kalah, cita-citaku masih belum mampu dihancurkan oleh kegagalan demi kegagalan ini. Impian ini masih akan tetap ada selama aku tetap berusaha dan meyakini bahwa Allah akan menjawab doa-doaku. Semoga saja Ya Allah...
Kegagalan itu kini telah berlalu dan menyisakan puing-puing kepedihan dihatiku. Namun, kepedihan itupun ikut berlalu seiring berjalannya waktu. Kini di depanku terbentang luas jalan untuk menggapai impianku. Sejuta harapan kini hadir dalam hidupku. Kurangkai kembali mimpi-mimpiku, dan aku siap menyongsong episode baru dalam hidupku.

Selasa, 20 September 2011

what do you think?

It’s still 11.07 pm now. But I can’t sleep. I just wanna go to bed now, but I want to post something here.  I just thinking about weird question about me. “do you have a boyfriend?”. OK,  I love a man. He is my friend and I know him so well. He is not my schoolmate. We are come to a different school. But I just had the feeling recently. 
I think, it’s been very  long to thinking about a boy in my life. Yeah, now I just thinking about must I have get some relation? or I have to focus on my university preparation? I don’t know but  I believe that Allah has been prepare it for me.
Okay, its 11.19 now, I thing I must take a nap soon. Gutten natch,,and gutten abend

Kamis, 04 Agustus 2011

My Birthday

Ulang tahun merupakan sebuah moument yang spesial dalam hidup seseorang. Ketika seseorang berulang tahun, seseorang menganggap umurnya bertambah 1 tahun. Namun sebenarnya, hanya usia-lah yg bertambah, sedangkan umur berkurang. Misalnya saja, jika seseorang berulang tahun ke 17, ia menganggap umurnya telah bertambah dari 16 tahun menjadi 17 tahun. Sebenarnya, ia telah kekurangan satu tahun jatah umur yang telah diberikan Allah kepadanya. Jika Allah menakdirkan umur seseorang 65 tahun, berarti jatah umurnya telah berkurang, sehingga “jatah umur” yang diberikan Allah tinggal 48 tahun lagi.
Nah, inilah yang seharusnya menjadi renungan bagi kita. Dengan sisa umur yang semakin sedikit, hendaknya kita bisa memanfaatkan sisa umur yang telah diberikan Allah kepada kita. Selain itu kita juga harus mengintrospeksi diri dan menjadikan masa lalu sebagai sebuah pengalaman berharga sehingga setiap kenangan indah dapat terulang kembali. Namun, bukan berarti kita melupakan masa lalu yang suram. Kenangan pahit itu kita jadikan  sebagai pelajaran agar tidak terjadi lagi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.
Esok tanggal 5 Agustus aku berulang tahun. Namun, ulang tahun kali ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini Allah menguji aku dengan sebuah kegagalan. Dari beberapa seleksi masuk perguruan tinggi negeri yang aku ikuti, tidak satupun aku dinyatakan lulus.
Pada SNMPTN, aku memilih jurusan HI UI, HI Unpad, dan Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah. Namun belum satu pun aku lulus. Mulanya aku cukup optimis untuk dapat diterima di PTN. Betapa tidak, semenjak duduk di bangku kelas XI aku telah mempersiapkan diri dengan mulai membahas soal-soal SNMPTN. Berbagai kegiatan les tambahan pun telah aku lakukan demi mencapai cita-citaku. Bahkan, ketika bimbel intensif untuk persiapan SNMPTN, hasil TO-ku cukup memuaskan. Meskipun selama TO aku tidak pernah lulus di pilihan pertama, namun skor nilaiku cukup untuk lulus dipilihan ke-2. Hasil ini cukup membuat aku optimis untuk mengikuti SNMPTN. Tapi, pada saat mengikuti SNMPTN, aku melakukan sebuah kesalahan fatal. Ya, aku salah memasukkan kode soal TPA dan  hasilnya ”aku tidak lulus SNMPTN”. Namun, salah mengisi kode soal TPA bukanlah menjadi alasan bagi kegagalanku. Mungkin memang belum takdirku untuk bisa lulus. Mungkin ada jalan lain yang  telah disiapkan Allah bagiku untuk dapat sukses. Atau mungkin saja Allah tengah mengujiku dengan kegagalan ini. Ya, pasti ada hikmahnya dibalik kegagalan ini. Aku yakin allah telah menyiapkan yang terbaik untuk aku, karena Allah tahu apa yang aku butuhkan, bukan apa yang aku inginkan.
Ulang tahun kali ini tidak akan pernah terlupakan bagiku, sebab pada ulang tahun kali ini Allah memberikan sebuah pelajaran yang sangat berharga tentang bagaimana caranya menyikapi sebuah kegagalan dan bagaimana caranya agar aku bisa kembali bangkit dari sebuah kegagalan. Allah tahu yang terbaik bagi hambanya, dan semoga saja, Allah telah menyiapkan sebuah kesuksesan bagiku dengan cara dan jalan yang sama sekali tidak aku ketahui. Amiin